17 Mei, 2009

Memaknai Bahagia

oleh Ineu Senin, 11/05/2009 13:57 WIB
Kemarin seorang sahabat bercerita dengan penuh haru tentang tingkah laku buah hatinya yang gelisah menanti esok hari tiba karena pada hari yang dinanti-nantinya itu di Jerman ada perayaan Muttertag (hari ibu), ia ingin mempersembahkan sesuatu untuk ibunya. Anak-anak usia sekolah di Jerman memang dibiasakan menyambut hari ibu dengan memberi suatu hadiah dalam berbagai macam kreasi, bisa berupa untaian puisi, gambar, bunga dan lain sebagainya untukmewakili ungkapan cinta pada ibunya. Kepolosan tingkah anak yang ingin mebahagiakan ibunya itu mengingatkan saya pada suatu hal yang belum lama ini menyadarkan saya akan makna membahagiakan orangtua.
Sejak ayah berpulang ke hadiratnya di masa saya kecil, terpatri dalam pikiran saya bahwa salah satu cara membahagiakan ibunda adalah tidak membebaninya dengan masalah yang saya hadapi. Seberat apa pun masalah, saya selalu mencoba menyelesaikannya sendiri. Saya merasa ibunda sudah cukup berat bebannya, sendirian membesarkan kami lima bersaudara.
Apalagi ketika jarak dan waktu memisahkan antara saya dan ibunda, dimana hanya telpon yang menjadi penyambung ungkapan cinta dan rindu kami. Rasanya di setiap kesempatan menelpon saya hanya ingin mendengar suara khasnya yang lemah lembut dan menyejukkan. Ekspresi gembira ibunda sering terwakilkan pula dalam tawanya manakala mendengar celoteh anak-anak kami, hal ini menjadikan selaksa bahagia menyelusup dalam hati saya dan membuat betah berlama-lama menelponnya. Ingin sekali saya persembahkan sebanyak-banyaknya cinta yang dapat membuatnya bahagia. Untuk itu maka setiap perbincangan di telpon, di samping menanyakan kabar ibunda, kakak dan adik, saya upayakan menyelipkan cerita dan kabar kami yang bisa membuat ibunda bahagia.